Bumi Sekundang Setungguan

Save 25% off All Norton Products With Coupon Code: SYMANTEC25US

DATA HASIL SENSUS PENDUDUK KABUPATEN BENGKULU SELATAN (BPS 2010)

sensus penduduk bengkulu 2010

Jumlah penduduk Provinsi Bengkulu sebanyak 1 715 518 jiwa yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 530 981 jiwa (30,95 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 1 184 537 jiwa (69,05 persen).
Persentase distribusi penduduk menurut kabupaten/kota bervariasi dari yang terendah sebesar 5,73 persen di Kabupaten Bengkulu Tengah hingga yang tertinggi sebesar 17,99 persen di Kota Bengkulu.

Jenis Kelamin Penduduk
Penduduk laki-laki Provinsi Bengkulu sebanyak 877 159 jiwa dan perempuan sebanyak 838 359 jiwa. Seks Rasio adalah 105, berarti terdapat 105 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.
Seks Rasio menurut kabupaten/kota yang terendah adalah Kota Bengkulu sebesar 101 dan tertinggi adalah Kabupaten Mukomuko sebesar 109.
Seks Rasio pada kelompok umur 0-4 sebesar 106, kelompok umur 5-9 sebesar 106, kelompok umur lima tahunan dari 10 sampai 64 berkisar antara 101 sampai dengan 120, dan dan kelompok umur 65-69 sebesar 99.

Umur Penduduk
Median umur penduduk Provinsi Bengkulu tahun 2010 adalah 25,52 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Provinsi Bengkulu termasuk kategori menengah. Penduduk suatu wilayah dikategorikan penduduk muda bila median umur < 20, penduduk menengah jika median umur 20-30, dan penduduk tua jika median umur > 30 tahun. 
Rasio ketergantungan penduduk Provinsi Bengkulu adalah 52,48. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 52 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 48,07 sementara di daerah perdesaan 54,54 . 
Perkiraan rata-rata umur kawin pertama penduduk laki-laki sebesar 26,0 tahun dan perempuan 22,2 tahun (perhitungan Singulate Mean Age at Marriage/SMAM).

Migran Masuk Risen
Jumlah penduduk yang merupakan migran risen terus meningkat dari waktu ke waktu. Hasil SP2010 mencatat 80 677 penduduk atau 5,2 persen penduduk merupakan migran masuk risen antar kabupaten/kota. Persentase migran masuk risen di daerah perkotaan 2,3 kali lipat lebih besar daripada di daerah perdesaan, masing-masing sebesar 8,6 dan 3,7 persen.
Menurut gender, jumlah migran laki-laki lebih banyak daripada migran perempuan, 41 956 berbanding 38 721 orang. Seks rasio migran risen adalah 108. Data-data tersebut menunjang teori, bahwa migran lebih banyak di daerah perkotaan dan laki-laki lebih banyak yang melakukan perpindahan. Persentase migran terbesar di Kota Bengkulu dan terkecil di Kabupaten Kaur.

Migran Masuk Seumur Hidup
Jumlah penduduk yang merupakan migran seumur hidup terus meningkat dari waktu ke waktu. Hasil SP2010 mencatat 480 066 penduduk atau 28,0 persen penduduk merupakan migran masuk seumur hidup antar kabupaten/kota. Persentase migran masuk seumur hidup di daerah perkotaan 0,8 kali lipat lebih besar daripada di daerah perdesaan, masing-masing sebesar 40,5 dan 22,4 persen.
Menurut gender, jumlah migran laki-laki lebih banyak daripada migran perempuan, 252 148 berbanding 227 918 orang. Seks rasio migran risen adalah 111. Data-data tersebut menunjang teori, bahwa migran lebih banyak di daerah perkotaan dan laki-laki lebih banyak yang melakukan perpindahan. Persentase migran terbesar di Kota Bengkulu dan terkecil di Kabupaten Lebong.

Pendidikan
Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar (Pasal 6 UU No. 20 tahun 2003). Berdasarkan hasil SP2010, persentase penduduk 7-15 tahun yang belum/tidak sekolah sebesar 1,65 persen dan yang tidak sekolah lagi sebesar 5,43 persen.
Ukuran atau indikator untuk melihat kualitas sumber daya manusia (SDM) terkait dengan pendidikan antara lain pendidikan yang ditamatkan dan Angka Melek Huruf (AMH). Berdasarkan hasil SP2010, persentase penduduk 5 tahun yang berpendidikan minimal tamat SMP/Sederajat sebesar 42,70 persen, dan AMH penduduk berusia 15 tahun ke atas sebesar 94,71 persen yang berarti dari setiap 100 penduduk usia 15 tahun ke atas ada 95 orang yang melek huruf. Penduduk dikatakan melek huruf jika dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya.

Penduduk Usia Sekolah
Jumlah penduduk usia 7-12 tahun sebanyak 210 222 jiwa, 13-15 tahun 101 566 jiwa, 16-18 tahun 94 957 jiwa dan 19-24 tahun 188 479 jiwa.
Di perkotaan jumlah penduduk usia 7-12 tahun sebanyak 62 301 jiwa, 13-15 tahun 32 526 jiwa, 16-18 tahun 33 364 jiwa dan 19-24 tahun 66 848 jiwa. Di perdesaan jumlah penduduk usia 7-12 tahun sebanyak 147 921 jiwa, 13-15 tahun 69 040 jiwa, 16-18 tahun 61 593 jiwa dan 19-24 tahun 121 631 jiwa.
Jumlah penduduk perempuan usia 7-12 tahun sebanyak 101 776 jiwa, 13-15 tahun 49 717 jiwa, 16-18 tahun 46 763 jiwa dan 19-24 tahun 93 869 jiwa. Jumlah penduduk laki-laki usia 7-12 tahun sebanyak 108 446 jiwa, 13-15 tahun 51 849 jiwa, 16-18 tahun 48 194 jiwa dan 19-24 tahun 94 610 jiwa.

Angka Partisipasi Sekolah (APS)
Angka Partisipasi Sekolah (APS) menunjukkan besaran penduduk usia sekolah yang sedang bersekolah. APS merupakan ukuran daya serap, pemerataan dan akses terhadap pendidikan khususnya penduduk usia sekolah. APS 13-15 tahun sebesar 86,86 persen. Ini menunjukkan masih terdapat kelompok usia wajib belajar (13-15 tahun) sebesar 13,14 persen yang tidak bersekolah. APS 16-18 tahun sebesar 56,89 persen dan APS 19-24 tahun sebesar 17,66 persen. 
APS di perdesaan lebih rendah dibandingkan perkotaan. Semakin tinggi kelompok umur semakin besar perbedaannya (gap). Di perdesaan APS 7-12 tahun sebesar 95,36 persen, APS 13-15 tahun 84,36 persen, APS 16-18 tahun 49,38 persen, APS 19-24 tahun sebesar 9,11 persen. Di perkotaan APS 7-12 tahun sebesar 96,94 persen, APS 13-15 tahun 92,25 persen, APS 16-18 tahun 70,85 persen dan APS 19-24 tahun sebesar 33,27 persen.

Pendidikan yang Ditamatkan
Kualitas SDM dapat dilihat dari pendidikan yang ditamatkan. Gerakan wajib belajar 9 tahun (1994) menargetkan pendidikan yang ditamatkan minimal tamat SMP. Persentase penduduk usia 5 tahun ke atas yang tidak/belum pernah sekolah sebesar 7,32 persen, tidak/belum tamat SD 21,84 persen, tamat SD/MI/sederajat 28,14 persen dan tamat SMP/MTs/sederajat sebesar 17,63 persen.
Kualitas SDM daerah perdesaan lebih rendah dibandingkan daerah perkotaan. Persentase penduduk uisa 5 tahun ke atas berpendidikan minimum tamat SMP/MTs/sederajat di perdesaan 34,14 persen lebih rendah dibandingkan perkotaan 61,67 persen. Pendidikan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Persentase penduduk perempuan usia 5 tahun ke atas berpendidikan minimum tamat SMP/MTs/sederajat 40,85 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki 44,47 persen.

Angka Melek Huruf (AMH)
Angka melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas sebesar 94,71 persen. AMH penduduk usia 15 tahun ke atas perempuan (92,53 persen) lebih rendah dibandingkan laki-laki (96,80 persen). AMH penduduk usia 15 tahun ke atas di daerah perdesaan (93,00 persen) lebih rendah dibandingkan daerah perkotaan (98,45 persen).
Rendahnya AMH penduduk usia 15 tahun ke atas disebabkan oleh rendahnya AMH penduduk usia 45 tahun ke atas. AMH penduduk usia 45 tahun ke atas sebesar 85,51 persen. AMH penduduk usia 45 tahun ke atas perempuan (78,38 persen) lebih rendah dibandingkan laki-laki (92,17 persen).

Ketenagakerjaan
Jumlah penduduk yang merupakan angkatan kerja di Provinsi Bengkulu sebesar 827 092 orang, di mana sejumlah 815 618 orang diantaranya bekerja, sedangkan 11 474 orang merupakan pencari kerja. Dari hasil SP 2010, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Provinsi Bengkulu sebesar 69,60 persen, di mana TPAK laki-laki lebih tinggi daripada TPAK perempuan, yaitu masing-masing sebesar 83,08 persen dan 55,61 persen. Sementara itu, bila dibandingkan menurut perbedaan wilayah, TPAK di perkotaan lebih rendah daripada perdesaan, masing-masing sebesar 59,58 persen dan 74,18 persen. Tiga kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu dengan TPAK tertinggi berturut-turut adalah Kabupaten Kepahiang (77,75), Kabupaten Lebong (76,83), dan Kabupaten Kaur (76,10). Dengan jumlah pencari kerja sejumlah 11 474 orang, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di provinsi ini mencapai 1,39 persen.

Perumahan
Peningkatan jumlah penduduk Indonesia yang pesat menjadikan kebutuhan tempat tinggal semakin meningkat pula. Program pemerintah yang menyangkut perumahan terus ditingkatkan, baik dari segi jumlah maupun kualitasnya. Status kepemilikan/penguasaan bangunan tempat tinggal di Provinsi Provinsi Bengkulu paling banyak adalah milik sendiri. Rumah tangga yang menghuni rumah dengan luas lantai kurang dari 20 m2 paling banyak dijumpai di Kota Bengkulu (8 440 rumah tangga), sementara yang paling sedikit terdapat di Kabupaten Bengkulu Tengah (921 rumah tangga).

Kesulitan Fungsional
Hasil SP 2010 tidak dapat digunakan untuk mengetahui jumlah penyandang disabilitas karena perbedaan konsep dan definisi antara SP 2010 dan Kementerian Sosial. Pendekatan tingkat kesulitan yang dialami oleh penduduk digunakan sebagai proksi mendapatkan informasi penyandang disabilitas.
Seseorang dapat memiliki satu atau lebih jenis kesulitan dengan derajat kesulitan ringan atau parah. Persentase penduduk usia 10 tahun ke atas di Provinsi Provinsi Bengkulu yang memiliki kesulitan, baik ringan maupun parah, dengan jenis kesulitan penglihatan sebesar 3,76 persen, kesulitan pendengaran sebesar 1,76 persen, kesulitan berjalan atau naik tangga sebesar 1,53 persen, kesulitan mengingat/berkonsentrasi atau berkomunikasi dengan orang lain sebesar 1,49 persen, dan yang memiliki kesulitan mengurus diri sendiri sebesar 0,97 persen.

Sumber: 
http://sp2010.bps.go.id/index.php/site?id=17&wilayah=Bengkulu
http://sp2010.bps.go.id/files/ebook/1701.pdf
BengkuluSelatan.Com
0 komentar " DATA HASIL SENSUS PENDUDUK KABUPATEN BENGKULU SELATAN (BPS 2010) ", Baca atau Masukkan Komentar
Post a Comment